News

Prabowo Tegaskan Kritik terhadap Polri dan TNI sebagai Konsekuensi Pengabdian

Saya tahu saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran (kritik, red). Itu risiko

Jakarta (KABARIN) - Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan bahwa sorotan dan kritik yang diarahkan ke polisi dan tentara adalah bagian dari konsekuensi tugas mereka dalam menjaga negara.

Dalam acara Groundbreaking 1.179 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi di Jakarta pada Jumat, Prabowo menyampaikan bahwa Polri saat ini banyak mendapat tekanan publik, sama seperti yang pernah dialami TNI di masa lalu.

"Saya tahu saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran (kritik, red). Itu risiko. TNI juga dulu jadi sasaran, ya kan. Jenderal-jenderal kita yang paling hebat, paling jago, ya kan, dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM," katanya saat berpidato.

Ia menegaskan keyakinannya bahwa TNI tidak pernah menjadikan fasilitas sipil sebagai target operasi. Menurutnya, selama sejarah berdirinya TNI, tidak ada catatan pengeboman terhadap rumah sakit, panti asuhan, sekolah, atau tempat ibadah.

"Rasanya, TNI enggak pernah ngebom rumah sakit selama sejarahnya TNI. Rasanya, TNI enggak pernah bom panti asuhan. Rasanya, TNI enggak pernah bom sekolah, enggak pernah bom gereja atau masjid," katanya.

Prabowo juga menyinggung sikap negara-negara Barat yang sering berbicara soal HAM ke negara lain, namun dinilai tidak selalu sejalan dengan praktik di negaranya sendiri.

"Negara-negara Barat yang ngajarin HAM kepada kita, saya enggak mau banyak komentar lagi lah ya. Anda tahu maksud saya. Jadi, banyak kalau istilah dulu kita jarkoni, iso ngajar ora iso nglakoni," katanya.

Ia meminta aparat kepolisian tetap kuat dan tidak goyah menghadapi kritik, karena hal itu sudah menjadi bagian dari profesi. Menurut Prabowo, yang paling penting adalah niat tulus dan pengabdian untuk bangsa.

"Jadi, kita harus tegar. Yang jelas, kita buktikan kepada rakyat. Hari ini, saya harus mengatakan bahwa saya bangga dan puas dengan prestasi. saudara-saudara," katanya.

Prabowo juga menekankan bahwa jika ada pelanggaran di dalam institusi besar, maka yang harus ditindak adalah oknum pelakunya, bukan lembaganya secara keseluruhan.

"Saya ibaratkan kalau ada sekolah, murid-muridnya ada yang brengsek, ada yang tawur-tawuran, ada yang kurang ajar, bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Keliru itu, terbalik. Bukan sekolahnya ditutup," ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Prabowo menyebut bahwa menjadi pemimpin berarti harus siap menghadapi tekanan, kritik, dan serangan, termasuk dari media sosial yang menurutnya sering dipenuhi aktivitas buzzer.

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: M. Hilal Eka Saputra Harahap
Copyright © KABARIN 2026
TAG: